Sibayaknews.com

Di Tengah Konflik  RSUD Kabanjahe Tegaskan Pelayanan Tak Boleh Terhenti: Layani Hingga 400 Pasien per Hari, Jadi Andalan Masyarakat Karo

           Sibayaknews.com, kabanjahe

Di tengah polemik pengelolaan RSUD Kabanjahe yang masih berlangsung antara Pemerintah Kabupaten Karo dan Moderamen Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) selaku pemilik lahan, satu hal dipastikan tidak boleh terganggu: pelayanan kesehatan bagi masyarakat.Bagi ribuan warga Kabupaten Karo, RSUD Kabanjahe bukan sekadar rumah sakit, tetapi menjadi benteng utama pelayanan kesehatan yang setiap hari melayani ratusan pasien, termasuk masyarakat kurang mampu melalui Program Universal Health Coverage (UHC).Direktur RSUD Kabanjahe, <span;>dr. Jasura Pinem<span;>, didampingi Kepala Bidang Pelayanan dan Medis <span;>dr. Riaputra Purba<span;> serta Kepala Seksi Keperawatan <span;>Ade Mayindri, S.Kep., Ners<span;>, menegaskan bahwa seluruh tenaga kesehatan tetap berkomitmen memberikan pelayanan terbaik, terlepas dari dinamika yang terjadi.”Harapan kami, konflik ini dapat segera selesai sehingga pelayanan kesehatan kepada masyarakat tidak terganggu. Kami bersama seluruh dokter akan terus memberikan pelayanan yang optimal karena yang kami utamakan adalah keselamatan dan kebutuhan masyarakat,” ujar Jasura saat diwawancarai di RSUD Kabanjahe, Jumat (24/7/2026).Menurutnya, keberadaan rumah sakit pemerintah memiliki fungsi yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh rumah sakit swasta. RSUD menjadi garda terdepan dalam melayani pasien terlantar, penanganan jenazah tanpa identitas maupun tanpa keluarga, hingga berbagai pelayanan sosial yang merupakan tanggung jawab negara.”Di situlah pemerintah harus hadir. Ketika ada pasien yang tidak memiliki keluarga yang menjemput setelah selesai dirawat, atau ada penemuan jenazah tanpa identitas, rumah sakit pemerintah yang menangani. Itu adalah bentuk kehadiran negara dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.<span;>Setiap Hari Layani Hingga 400 Pasien<span;>Tingginya kebutuhan masyarakat terhadap RSUD Kabanjahe tercermin dari jumlah kunjungan pasien yang terus meningkat. Setiap hari, rumah sakit ini melayani sekitar <span;>300 hingga 400 <span;>pasien rawat jalan, bahkan pada hari tertentu mencapai <span;>450 pasien<span;>. Sementara pasien rawat inap rata-rata mencapai <span;>sekitar 60 orang <span;>setiap hari.Data tersebut menunjukkan bahwa RSUD Kabanjahe masih menjadi rumah sakit rujukan utama bagi masyarakat Kabupaten Karo dan wilayah sekitarnya.Tak hanya itu, layanan hemodialisa (cuci darah) juga terus mengalami peningkatan. Saat ini terdapat <span;>40 pasien aktif<span;> yang rutin menjalani cuci darah di RSUD Kabanjahe, sementara <span;>sembilan pasien lainnya <span;>masih masuk daftar tunggu karena kapasitas pelayanan telah penuh.Akibat keterbatasan fasilitas, sejumlah warga dari Kecamatan Mardinding, Lau Baleng dan wilayah lainnya masih harus dirujuk ke Medan maupun rumah sakit lain hanya untuk mendapatkan layanan cuci darah.”Kami berharap kapasitas layanan hemodialisa dapat ditingkatkan sehingga masyarakat tidak perlu lagi pergi ke luar daerah untuk mendapatkan pelayanan yang mereka butuhkan,” ujar Jasura.<span;>Terus Tingkatkan Layanan dan SDM<span;>Di tengah tingginya beban pelayanan, RSUD Kabanjahe tetap berupaya meningkatkan kualitas layanan kesehatan.Rumah sakit ini merupakan salah satu rumah sakit rujukan nasional untuk penanganan HIV/AIDS dan terus memperkuat kompetensi tenaga medis melalui pendidikan dokter spesialis.Saat ini, seorang dokter spesialis jantung sedang mengikuti pendidikan fellowship di China dan ditargetkan kembali pada akhir tahun 2026 guna memperkuat layanan penyakit jantung di RSUD Kabanjahe.Selain itu, dua dokter juga telah memperoleh pendidikan khusus di bidang hemodialisa sehingga diharapkan mampu meningkatkan kualitas pelayanan cuci darah di masa mendatang.Untuk mengurangi antrean pasien, manajemen juga melakukan berbagai inovasi pelayanan, salah satunya dengan menambah jadwal praktik dokter spesialis penyakit dalam sehingga setiap dokter kini melayani di dua poli.”Kami terus melakukan berbagai upaya agar antrean pasien berkurang dan pelayanan semakin cepat. Tujuan kami sederhana, masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik,” katanya.<span;>UHC Jadi Penyelamat Akses Kesehatan Masyarakat<span;>Jasura menegaskan, keberlangsungan Program Universal Health Coverage (UHC) yang telah diterapkan Pemerintah Kabupaten Karo menjadi faktor penting dalam memastikan seluruh lapisan masyarakat tetap memperoleh pelayanan kesehatan tanpa terkendala biaya.Menurutnya, hampir seluruh pasien yang dirawat di RSUD Kabanjahe merupakan peserta BPJS Kesehatan yang pembiayaannya didukung melalui skema UHC, baik dari APBD, pemerintah pusat maupun pemerintah provinsi.”Hampir 100 persen pasien kami merupakan peserta BPJS. Bahkan pasien yang sedang dirawat saat ini hampir seluruhnya adalah peserta BPJS. Karena itu pelayanan UHC harus tetap dipertahankan agar masyarakat tetap memperoleh akses kesehatan tanpa hambatan,” tegasnya.Harapan: Konflik Segera Selesai,pelayanan Tetap TerjaminDi sisi lain, manajemen berharap pembangunan rumah sakit baru di Desa Lingga dapat segera terealisasi. Meski membutuhkan waktu dan dukungan anggaran yang besar, pembangunan tersebut diyakini akan semakin meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat Kabupaten Karo.Namun, di atas semua itu, menurut Jasura, yang paling penting adalah memastikan pelayanan kesehatan tidak terhenti akibat persoalan apa pun.”Bagi kami yang terpenting adalah pelayanan kepada masyarakat jangan sampai terputus. Apa pun dinamika yang terjadi, masyarakat tetap harus mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak,” pungkasnya.

=

=
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan