Anak Diduga Keracunan MBG, Wali Murid Berastagi Luapkan Kekecewaan kepada Kepala BGN
KARO,sibayaknews.com– Kekecewaan mendalam seorang wali murid di Berastagi, Kabupaten Karo, terhadap pelaksanaan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) memuncak saat Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono meninjau para pelajar yang masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Efarina Etaham, Minggu (16/8).
Seorang ibu yang anaknya diduga mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG bahkan meluapkan kemarahannya langsung kepada Sudaryono. Dalam kondisi menangis, ia mempertanyakan penyebab anaknya mengalami sakit dan meminta penjelasan mengenai makanan yang dikonsumsi anaknya.
Ibu tersebut menceritakan, anaknya yang merupakan siswa SMA Negeri 1 Berastagi mulai mengalami sesak napas sejak Kamis (13/8). Kondisinya membuat sang anak harus menjalani perawatan selama tiga hari di Rumah Sakit Amanda.
Setelah sempat diperbolehkan pulang, kondisi anaknya kembali memburuk. Ia mengalami mual setelah makan di rumah dan akhirnya kembali dilarikan ke Rumah Sakit Efarina Etaham untuk mendapatkan penanganan.
Dengan suara bergetar dan menggunakan bahasa Karo, sang ibu mempertanyakan apa yang sebenarnya terkandung dalam makanan MBG yang disantap anaknya. Ia mengaku hingga saat itu belum memperoleh penjelasan yang memuaskan mengenai penyebab gangguan kesehatan yang dialami anaknya.
Luapan emosi tersebut menggambarkan kekecewaan wali murid yang berharap adanya keterbukaan dari pihak terkait, terutama mengenai penyebab dugaan keracunan dan kepastian penanganan terhadap para siswa yang terdampak.
Menanggapi hal itu, Sudaryono mengaku memahami kekecewaan para orang tua. Menurutnya, orang tua memiliki alasan kuat untuk marah dan kecewa setelah anak mereka mengalami gangguan kesehatan usai menyantap makanan MBG.
“Tuntutannya untuk keterbukaan keracunan karena apa. Dan mendapatkan pengobatan yang prima. Saya kira dua itu tidak ada yang ditutupi,” ujar Sudaryono.
Ia menegaskan bahwa prioritas saat ini adalah memastikan seluruh siswa mendapatkan penanganan medis hingga kondisi mereka pulih. Di sisi lain, BGN juga melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program MBG untuk mengetahui penyebab makanan yang dikonsumsi para siswa diduga menimbulkan keracunan secara massal.
Berdasarkan identifikasi awal BGN, dugaan sementara berkaitan dengan ikan yang sebagian tidak dimasukkan ke dalam freezer selama lebih dari 12 jam. Kondisi tersebut dinilai sebagai bentuk kelalaian dalam proses pengelolaan makanan.
“Kelalaian. Sudah copot proses pemecatan dan dapur saya tutup dengan klasifikasi pelanggaran berat,” kata Sudaryono.
BGN menyatakan akan mengambil tindakan terhadap pihak yang dinilai bertanggung jawab. Dapur penyedia MBG yang berkaitan dengan kejadian tersebut ditutup dan dikategorikan melakukan pelanggaran berat.
Sementara itu, proses penyelidikan terkait dugaan keracunan diserahkan kepada pihak berwajib. Aparat akan memastikan penyebab kejadian sekaligus mendalami ada atau tidaknya unsur pelanggaran dalam kasus tersebut.
Di tengah proses tersebut, tuntutan utama para orang tua tetap mengarah pada dua hal, yakni keterbukaan mengenai penyebab dugaan keracunan serta jaminan penanganan medis yang maksimal bagi anak-anak mereka.




